Belajar Sejati itu Berpusat di Hati Nurani

catatan : karena kegiatan utama saya ada di Semi Palar, banyak refleksi dan pemikiran muncul atas hal-hal yang terjadi di sana. Catatan-catatan ini adalah bagian penting dari proses belajar saya. Walaupun begitu blog ini bukan blognya Semi Palar lho…

Sejauh ini mengamati apa yang terjadi di anak-anak Semi Palar dalam proses belajarnya, ada satu kesimpulan yang semakin lama semakin saya yakini, bahwa pembelajaran sejati itu berpusat bukan di kepala (otak) kita tapi di hati nurani (true learning lies not in our minds but in our hearts).

Anak-anak kita ajak berpetualang di hutan dalam tema yang berjudul Penjaga Rumah Rimbun. Dan dalam diskusi kami bersama guru-guru, terlihat jelas antusiasme mereka dalam berkegiatan di tema ini ditambah lagi dengan apa-apa yang bisa mereka hasilkan dalam karya-karya mereka (gambar, karangan, doa dan lain sebagainya). Anak-anak SD kelas 1 di akhir tema yang berjalan 6 minggu bisa menghasilkan cukup banyak karya tentang hutan. Kak Wienny dan Kak Caroline mengusulkan agar karya-karya tersebut dirangkum kedalam bentuk buku yang akan ditempatkan di perpustakaan.

Beberapa cerita tentang apa yang terjadi selama tema ini memang menggambarkan bahwa anak-anak

memang terlibat cukup dalam di tema ini. Saat ada anak SD yang meneteskan air mata sewaktu menuliskan doa tentang hutan, atau ekspresi emosional anak-anak yang terlihat jelas saat menonton filem tentang penebangan hutan.

Satu peristiwa lain yang jelas menyentuh nurani anak-anak adalah saat beberapa minggu lalu, hujan lebat dan angin kencang menimpa sebagian besar kota Bandung, dan dalam kejadian itu, batang pohon Angsret di sebelah pendopo Smipa ada yang patah dan diterbangkan angin ke pendopo dan tepat ke kebun jagung anak-anak. Senin pagi berikutnya, anak-anak bersama kakak berkerumun di sekitar kebun mereka yang porak poranda. Sebagian besar hasil kerja anak-anak menanam dan memelihara tanaman jagung sejak hampir 3 bulan yang lalu (tema Desa) hancur. Pagi itu bersama kakak mereka membereskan dan berusaha menyelamatkan jagung yang sudah hampir panen tapi rebah tertimpa dahan pohon yang patah. Tampak di wajah anak-anak rasa sedih dan kecewa. Beberapa anak yang pohon jagungnya selamat dan dipanen di minggu berikutnya membagi hasil panennya ke teman-temannya.

Tanpa disadari ada peristiwa ‘bencana kecil’ ini membuka pintu pembelajaran yang luar biasa bagi anak-anak. Saat apa yang mereka alami kita belokkan untuk membangun empati anak terhadap apa yang dialami para petani saat panennya gagal karena bencana. Keterlibatan anak secara emosional, ternyata sangat penting dalam pembelajaran mereka dan akan memperdalam pemahaman-penghayatan mereka tentang apa yang sedang mereka pelajari bersama. Dan ini hanya bisa terjadi saat anak belajar secara aktif melalui pengalaman-pengalaman mereka dalam belajar (experiential learning). Apa yang terjadi dan dialami anak-anak adalah bukan terbatas di pikiran mereka tapi memang menyentuh hati nurani mereka.

Di jenjang lain, TK dan PG karya anak-anak juga mengungkapkan itu. Karya-karya luar biasa yang hanya bisa muncul saat antusiasme anak bisa digali / dimunculkan. Pendidikan (Education) yang asal katanya dari bahasa Yunani ‘educare’ maknanya memang itu : menggali / memunculkan. Dan antusiasme (juga dari bahasa Yunani ‘an’ dan ‘theos’ yang makna katanya : Tuhan ada di dalam) hanya bisa muncul saat anak betul-betul mencurahkan seluruh dirinya (badan, jiwa dan pikiran) saat menghasilkan karya itu. Bagaimana membangun keterlibatan anak secara penuh dalam kegiatan adalah tugas guru atau fasilitator yang terutama. Dalam konteks tulisan ini adalah bagaimana guru membangun keterkaitan antara anak dengan materi, tema atau kegiatan yang sedang dijalankan dengan menghayati bahwa pembelajaran yang sejati adalah saat hati nurani anak terlibat dalam apa yang sedang mereka tekuni / pelajari.

Saat hati nurani anak terlibat saat belajar tentang tema hutan, dengan mudah mereka akan bisa memotivasi diri untuk mencari tahu segala sesuatunya tentang hutan, membangun pengetahuan atas dasar ketertarikan yang sudah memang sudah mereka miliki. Mengisi kepala dan memorinya dengan pengetahuan adalah sesuatu yang jadi jauh lebih sederhana, karena keterikatan batin antara diri mereka dengan apa yang sedang mereka pelajari sudah terbentuk.

Akhirnya ini menjelaskan tentang bagaimana spiritualitas adalah titik pusat dari pembelajaran holistik. Saat anak belajar dan berproses menjadi manusia yang utuh, manusia yang punya kesadaran (awareness) bahwa segala sesuatunya (manusia, alam semesta dan Tuhan) adalah satu bagian yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, sekecil apapun itu, punya dampak ke segala sesuatu di alam semesta ini.

Salam, Andy Sutioso, 15 April 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s