tentang Judy Baldock : mahasiswi berumur 69 tahun

Satu dari banyak perjumpaan saya yang membawa kesan. Waktu itu tahun 1996,semester 1 di lab komputer Faculty of Built Environment, School of Landscape Architecture di UNSW (University of New South Wales – Sydney). Setelah setengah tahun saya kuliah, saya diminta dosen saya Jim Plume menangani lab komputer: Introduction to Computing untuk mahasiswa tingkat 1 strata 1 dari School of Landscape Architecture. Salah satunya mahasiswi saya adalah Judy ini. Kenapa berkesan, karena beliau waktu itu duduk di kelas saya sementara umur beliau sudah 69 tahun. Seorang oma yang cucunya sudah 6 orang, beliau terdaftar sebagai mahasiswa landscape architecture. Dan dia punya semangat belajar yang luar biasa. Waktu itu saya harus mengenalkan aplikasi komputer dasar mulai word processing, spreadsheet, database dan email, membimbing para mahasiswa menyelesaikan lembar demi lembar tutorial. Judy adalah salah satu yang paling semangat menyelesaikan pekerjaannya.

Di akhir sebuah sesi tutorial, saya sempat bertanya kepada beliau, intinya “Judy, what’s your reason you go back and study in the University?” dia bilang, “Well, I don’t know, I have always wanted to go and study landscape, never got the chance until now, and here I am”. Kalimat ini saya ingat betul, walaupun peristiwanya lewat hampir 11 tahun yang lalu. Yang mengherankan saya, sekian lama, puluhan tahun, semangat belajar beliau tidak pernah luntur. Luar biasa. Dan dia tampaknya juga tidak pernah peduli dia satu-satunya mahasiswa yg sudah oma, sementara yg lain umumnya lulusan High School.

Akhir tahun 96 saya kembali ke Indonesia, setelah selesai studi dan kelahiran anak saya yang pertama. Waktu berjalan sampai saatnya usianya dia masuk TK. Saya dan istri rasanya sudah cukup berhati-hati memilih sekolah karena sebelum menentukan kami sudah memperoleh cerita-cerita bagaimana sekolah-sekolah sekarang semakin berat buat anak bahkan di usia TK. Di TK-nya, ternyata dia hanya bertahan 4 bulan. Di titik itu dia sudah sampai tahapan stress yang efeknya muncul sebagai gangguan pencernaan. Di bulan ke 4 itu, dia semakin sulit diajak berangkat ke sekolah. Setiap pagi kami harus ‘berantem’ dulu di setiap tahap mulai dari bangun tidur, berpakaian, makan dan seterusnya. Sikap-sikapnya sehari-hari pun menjadi sangat negatif dan tidak menyenangkan. Sampai akhirnya kamipun membiarkan dia untuk memutuskan, apakah mau terus sekolah atau tidak. Tanpa ragu dia memilih berhenti sekolah.

Peristiwa ini membuat saya bingung, dan berpikir. Saya jadi ingat kembali tentang Judy dan apa yang saya alami di anak saya. Bagaimana mungkin seorang anak punya semangat belajar, keinginan sekolah yg tidak pupus saat dia seusia Judy, sedangkan pada usia 4 tahun, sekolah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan baginya. Buat orang-orang seperti Judy, belajar adalah sebuah kesenangan, sebuah passion, sebuah semangat yang tidak pernah padam selama puluhan tahun waktu yang dia lewati sebelum kembali sekolah.

Perenungan ini adalah salah satu titik saya merasa ada yang sangat tidak beres dengan pendidikan kita. Apa itu, saya memang tidak tahu. Tapi dari titik-titik kecil apa yang saya amati saat anak saya ada di sekolah itu, saya mulai punya sedikit kesimpulan. Kalau Semi Palar sekarang jadi sesuatu yang saya dan teman-teman tekuni, saya harus berterima kasih pada Judy Baldock, pada anak saya yang sulung dan TK-nya yang dulu. Rasanya mereka jadi pemicu yang besar bagi eksistensi Semi Palar sekarang ini.

One thought on “tentang Judy Baldock : mahasiswi berumur 69 tahun

  1. Pingback: Menelusuri Jalan Pendidikan | perjalanan si 'nday'

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s