filsafat ???

Filsafat ??? Hah, barang apa itu? Itu pandanganku dulu tentang sesuatu yang namanya filsafat. Anehnya, sekarang aku bisa duduk kembali di bangku kuliah (setelah bertahun-tahun lamanya aku tidak masuk kampus), aku bersama beberapa kakak Smipa ikutan Extension Course Filsafat dengan tajuk Philosophy of Religion.

Di sini bukan course ini yang penting, tapi pengalamanku di Semi Palar, mengamati anak-anak dalam proses belajarnya yang luar biasa, akhirnya merefleksikan sesuatu yang lain. Jangan-jangan memang aku (kita) dididik dengan cara yang salah. Aku tidak pernah belajar untuk bertanya dan bertanya.

Salah satu forum diskusi yang pernah aku hadiri sepertinya menegaskan hal
ini saat seorang pembicara bilang bahwa manusia Indonesia itu manusia
How-To… Hanya tahu gimana melakukan sesuatu. Hanya ngerti teknis,
prosedural, hanya paham masalah cara. Pragmatis banget. HIDUP-pun jadi
sesuatu yang sangat teknis. Pokoknya jalanin aja seperti orang-orang lain.
Dari bayi, sekolah, sekolah lalu kuliah (pilih jurusan yang rame / laku),
lulus lalu kerja, kerja lalu cari jodo, lalu kawin, lalu punya anak, lalu
pensiun, lalu???

Kita tidak pernah lagi bertanya sesuatu yang lebih dalam dari pertanyaan
bagaimana? Kita tidak pernah bertanya apa dan kenapa? Apa itu hidup? Kenapa
kita dianugerahi hidup? Apa itu pernikahan? Apa itu bekerja? Apa itu
pekerjaan? Hal-hal semacam itu…

Filsafat seakan-akan jadi sesuatu yang jauh dari kita. Padahal seharusnya
tidak begitu (paling tidak menurut saya). Karena untuk punya hidup yang
bermakna, makna hidup akhirnya toh harus dicari. Kita harus bisa memaknai
hidup kita, kalau tidak ya hidup kita akan kosong, hampa, tanpa makna. Kalau
hidup adalah sebuah perjalanan, seharusnya hidup punya tujuan. Sepertinya
orang harus studi S3 untuk bisa memahami filsafat (yang ditandai dengan
gelar PhD: Doctor of Philosophy).

Kalo belum S3, jangan sok tau deh, kamu kan masih pada belon ngarti…
Padahal filsafat (menurut aku) adalah sekedar bertanya dan mencari jawaban.
Berusaha kritis, gitu lho.

Di Smipa, sehari-hari kita banyak sekali berjumpa dengan filsuf-filsuf
hebat. Anak-anak. Mereka yang selalu bertanya dan bertanya dan
mempertanyakan lagi jawaban-jawaban kita, atau fakta-fakta yang sudah kita
ketahui. Seperti sebuah pencarian terhadap kebenaran. Kami, kakak-kakak
fasilitator mereka sering kali tertegun mendengarnya. Persis seperti apa
yang dibilang John Holt, pakar pendidikan : “Children are like philosophers.
They ask big questions!”

Kalau memang bertanya adalah suatu kemampuan yang
dimiliki anak-anak? Tapi kenapa kita jadi (tidak suka, tidak berani, atau
tidak biasa) bertanya? Saat kita memandang hidup kita dan segala sesuatu di sekelilingnya adalah sesuatu yang luar biasa, sakral dan mengagumkan, bagaimana mungkin kita tidak bertanya dan mencoba memahaminya, mencari maknanya?

Filsafat ternyata bisa jadi sangat sederhana. Seperti di filem Horton Hears
the Who… “Bagaimana mungkin ada manusia tinggal di dalam sebutir debu?
Debu kan kecil sekali?” protes si Kangguru, lalu balas Horton, “Belum tentu
mereka yang kecil… Mungkin saja kita ini yang sangat besar”… Nah lho?

Akhirnya filsafat hanyalah seperti tagline iklan sebuah produk rokok : TANYA
KENAPA! (hehe… rokoknya sih aku ga suka, tapi tagline-nya… top banget!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s