hutan

… Mungkin sebab itu, ketika hutan ditebang, waktupun berubah.
Bagaikan sepetak tanah yang gundul, di mana jalan akan direntang dan pasar akan dibangun, waktu pun terhantar, datar, siap diukur.
Tamasya itu – hutan yang hilang, waktu yang dirampat – tak lagi punya tuah.
Ia hanya punya harga. Ia hanya punya guna. Tiap jengkal telah tercampak, menyerah ke dalam rengkuhan kalkulasi manusia. Waktu yang menakjubkan, juga “puak yang perkasa dan damai” itu. – ungkapan Marcel Proust tentang pohon-pohon – pun tak dilahirkan kembali.

Hutan, saya kira, adalah wilayah penghabisan di mana Kegaiban masih belum hilang, di mana Misteri belum dipetakan. Itu sebabnya, dulu, raja-raja yang uzur menyingkir ke dalamnya sebagai pertapa, untuk – seperti Destrasastra, disertai Gandari dan Kunthi dalam bagian terakhir Mahabharata – menantikan mati. Para penguasa yang mengubah diri jadi resi itu tak lagi berniat menaklukkan dunia. Mereka datang ke rimba menemui kembali pohon-pohon.

dari Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai, Goenawan Mohamad : hal. 103

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s