Refleksi dari seorang Paimo, pesepeda jarak jauh


Life is a journey
, hidup itu sebuah perjalanan. Kata2 ini mampir lagi di kepalaku setelah pulang mendengarkan sharingnya mas Paimo, seorang petualang sejati, pesepeda jarak jauh yang sudah menjelajahi pelosok2 benua di bumi ini. Melintasi tempat-tempat terekstrim di planet ini: mendaki lereng-lereng Himalaya, melintasi gurun Atacama, bersepeda, seorang diri (berdua, bersama Tuhan). Kalau tidak salah sudah hampir semua muka benua sudah dijelajahinya. Tidak ada kata lain yang cocok selain amazing, mengagumkan, walaupun kata itu juga mungkin tidak cukup… Bayangkan saat perjalanannya di Amerika Selatan, Paimo bersepeda menempuh 6.000 km, yang dilakukannya hampir selama 3 bulan, seorang diri…

Di hari itu, Paimo bercerita tentang perjalanan-perjalanannya dalam acara yang bertajuk ‘CONQUERING ROADS Under The Heat of The Same Sun’


Lalu apa yang aku dapat waktu itu? Selain kekaguman akan kisah dan foto-foto perjalanan yang diceritakannya, apa yang bisa aku catat di pertemuan itu terutama adalah kepasrahan Paimo dalam setiap perjalanannya. Dan aku kira itu adalah kunci keberhasilannya dalam setiap perjalanannya. Memang saat ditanya apa yang jadi tujuannya dan apa motivasinya, Paimo juga tidak bisa banyak menjelaskan. Katanya, saat nanti ia dipanggil penciptanya, ia hanya ingin dikenang sebagai Paimo saja. Apa motivasinya? Dia bilang tidak tahu persis. Sepertinya di perjalanan2 itu Paimo merasa ‘hidup’. Gairah, semangat, spiritnya saat menempuh ribuan kilometer kayuhan demi kayuhan di atas sepeda tuanya mencerminkan bahwa pada momen-momen itulah Paimo merasa dirinya sungguh-sungguh hidup – he really feels alive! Paimo menemukan spiritualitasnya saat bersepeda jarak jauh. Saat-saat sendiri itulah Paimo seakan-akan bertemu dengan Tuhannya. Ini menjelaskan kepasrahannya, karena memang ada kekuatan yang menemaninya saat Paimo sendirian berada di sepedanya… Saat-saat itu, Paimo memang tidak pernah sendirian…

Mirip dengan kisah Paimo, beberapa waktu lalu di sebuah website aku ‘berjumpa’ dgn seorang Vietnam melalui website dan blognya, Kim Nguyen, seorang muda yg meninggalkan kehidupan ‘normal’nya untuk bersepeda dari Australia ke Copenhagen untuk COP 15, International Climate Summit, di bulan November tahun lalu. Perjalanannya memakan waktu 17 bulan. Misinya adalah membawa pesan & membangun kesadaran tentang perubahan iklim kepada semua orang di semua tempat yang dijumpainya dalam perjalanannya dari daerah ke daerah, negara ke negara.

Seperti yang dibilang Paimo, banyak orang akan bilang orang-orang seperti Kim itu gila, orang seperti Paimo itu gendeng. Tapi ya itulah. Hanya spirit yang sungguh2 besar dan disadari betul oleh orang-orang tersebut yang bisa mendorong mereka melakukan hal-hal luar biasa seperti itu. Dan pada akhirnya merekalah orang-orang yang menghasilkan pencapaian2 besar dan apa yang dilakukannya akan jadi memori untuk orang-orang yang mengenalnya dan mendapatkan inspirasi dari mereka. Sebuah warisan, sebuah legacy… inilah yang bikin seseorang jadi legenda, dan mereka tidak akan pernah mati, they live on!

Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pasti tidak semua bisa seperti Paimo. Tapi kita masing-masing pasti punya perjalanan kita sendiri. Pertanyaannya, apakah kita sudah menemukan perjalanan kita? Apakah kita tau kemana dan apa tujuan hidup kita? Apakah kita sedang menjalani perjalanan itu, menuju tujuan kita, tidak mesti di atas sepeda, tapi lewat apa yang kita lakukan sehari-hari…

Kita lihat banyak juga orang yang menemukan makna hidupnya dengan berdiam diri, merenung, mengisi hari2nya dalam hening, lewat doa meditasi, seperti yang banyak dipraktekkan oleh para pendeta Budhis, atau para petapa Hindu, mereka yang belajar Zen dll. Sebetulnya sama juga mereka sedang melakukan perjalanan: bedanya perjalanan mereka ini dilakukan ke dalam dirinya : sebuah inner journey. Di sebuah buku ‘One Purpose Million Ways’ (Carol Adrienne) aku baca bahwa orang-orang yang tinggal di desa-desa di ketinggian Himalaya, adalah sepertinya orang-orang yang paling bahagia di dunia, padahal mereka paling tidak punya apa-apa. Masyarakat yang hidup di daerah yang sangat gersang untuk bisa ditanami sesuatu. Bukan lingkungan tempat tinggal yang mudah buat siapapun juga tapi mereka punya kedamaian yang inheren dalam kehidupan mereka. Kalau mereka tidak punya apa-apa tapi bahagia, tentunya apa yang ada dalam dirinyalah yang membuat mereka bahagia…

Mencari spiritnya, menemukan soul – jiwanya, dan dalam prosesnya menemukan kembali keterkaitan dirinya dengan kekuatan Ilahiah yang mengatur segala sesuatu di alam semesta ini. Istilah singkatnya dalam kamusku : spiritualitas.

Lagi, buat kita yang bukan Paimo, bukan pendeta lalu gimana? Ya itu tadi, perjalanan hidup kita tentunya berbeda-beda, menemukan dan menjalaninya jadi penting.

Rasanya, apa yang seharusnya kita lakukan adalah jujur. Jujur terhadap diri sendiri, lalu terbuka terhadap hal-hal apa yang membuat kita bahagia. Saat kita bahagia, merasa damai saat kita melakukan sesuatu, bisa jadi itulah saat kita sejalan, masuk dalam arus besar kehidupan kita (yang digariskan Sang Maha Pencipta). Dan memang, kebahagiaan dan kedamaian, sejatinya ada, terletak di dalam diri kita sendiri.

Masalahnya di jaman modern ini, kita sangat mudah teralihkan dan kemudian tersesat, karena banyak sekali hal yang mendistraksi kita dari apa yang seharusnya kita lakukan – dari peta perjalanan hidup kita. Sulit untuk menemukan apa yang seharusnya kita lakukan. Terlalu banyak standar yang dimunculkan / digariskan dari luar diri kita oleh persepsi masyarakat, khususnya. Masyarakat (yang dikendalikan oleh media massa) sepertinya punya standar-standar sendiri untuk setiap dari kita. Orang sukses (bahagia) kalau punya rumah di sini, punya hape merek ini, pake baju merek ini, nyetir mobil merek ini, bisa berjalan2 ke luar negeri dll. Orang yang cantik itu yang berkulit putih, berambut panjang.
Bergeraklah kita ke sana kemari karena hal-hal itulah yang jadi ukuran di masyarakat, dan tidak disadari menjauhkan kita dari jalan hidup kita yang sejati, dan kita malah kehilangan kebahagiaan kita yang sesungguhnya.

Kembali ke beliau-beliau yang diceritakan di atas, aku kira intinya adalah kejujuran mereka kepada diri sendiri. Dan dengan kejujuran ini, mereka bisa menemukan spirit yang memandu mereka dalam langkah-langkah kehidupannya. Yang aku yakin, mereka bahagia.
Buat aku, buat kita, bisakah kita jujur terhadap diri kita supaya kita bisa menemukan makna, tujuan, dan akhirnya kebahagiaan dan kedamaian hidup kita… Terima kasih Paimo, untuk segala inspirasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s