Launching SOS (Sehati Oentoek Sesama) di GIM

Gerakan SOS yang diprakarsai oleh teh Rieke Diah Pitaloka ini baru saja diwacanakan seminggu yang lalu di tempat ini juga, di Gedung Indonesia Menggugat. Salah satu tempat yang belakangan sering bawa cerita dan pengalaman istimewa buat aku.
Sore ini aku mampir lagi di GIM setelah Kang Aat mengajak aku ketemuan di sana. Event ini sebetulnya aku sudah tau lewat undangan temanku Tompel lewat FB, tapi karena judulnya lelang lukisan, awalnya aku agak kurang berminat datang (da teu bogaeun duit keur meser lukisan)…
Setelah dengar ada Abah Iwan, Mukti2, Doel Sumbang dkk, akupun memutuskan hadir. Sebetulnya kondisi badan masih ga fit karena sepanjang minggu lalu kena batuk dan pilek… tapi kalo ada denger Abah Iwan mau nyanyi, bawaannya selalu aja pengen dateng entah kenapa. Kebetulan aku juga ingin cari info tentang Posko pengumpulan bantuan untuk bencana alam jawa barat yang akan mereka kelola.

Setelah acara mulai, rangkaian acara demi acara mulai digelar. Dibuka oleh Kang Aat dan diawali dengan ritual yang tak pernah lepas dari komunitas ini, pengibaran Merah Putih dan lagu Indonesia Raya oleh mas Imam. Ini juga salah satu hal yang jadi kerinduan aku belakangan ini. Entah aku jadi sentimentil atau gimana, menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam komunitas dan suasana ini selalu istimewa. Ada rasa bergetar, ada rasa haru, ada rasa bangga… Hal ini juga yang bikin aku kangen untuk hadir dan hadir lagi dalam kegiatan2 seperti ini.
Kemudian diputar cuplikan rekaman situasi longsor di Ciwidey, yang mengantar kita pada penghayatan kenapa kita semua berkumpul di sana. Selanjutnya hari ini aku punya kesempatan mendengarkan Boni Avibus, anak perempuan berusia 7 tahun, yang menyumbangkan puisi yang dibawakannya dengan luar biasa. Entah apa yang membuatnya bisa begitu… Ekspresi, penghayatannya, intonasi! Singkatnya keren banget!

Lalu Rieke bercerita memberikan pengantar tentang kegiatan ini, satu kalimatnya yang aku catat : “bencana alam akan berubah jadi bencana kemanusiaan, saat kita sudah tidak peduli, saat kita membiarkan para korban kesepian”… Setelahnya Abah Iwan membawakan 5 buah lagunya yang membawa kita kepada perenungan2 mendalam tentang banyak hal, termasuk mengingatkan kita bahwa bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini adalah cerminan kalutnya alam batin masyarakat Indonesia. Selain bencana-bencana alam yang terjadi di sekitar kita, tragedi yang sama terjadi di tengah pemimpin dan wakil-wakil rakyat kita seperti yang sehari-hari kita saksikan di media dan layar kaca…

Akhirnya, kang Herry Antha dan teh Rieke-pun mulai seru memimpin lelang lukisan . Ada 9 lukisan yang disumbangkan para seniman Jawa Barat seperti Acep Zamzam Noor, Herry Dim, Diyanto, Jeihan, Diyanto, Hanafi, Edos, Rosid dan Isa Perkasa. Ini jadi gelaran pertama dari event serupa yang akan digelar di kota-kota di Jawa Barat.

Sebagai catatan penutup, hari ini hadir juga Bpk Gubernur kita bpk. Ahmad Heryawan dan Ibu Netty, di antara kita. Beliau hadir atas undangan per telepon (bukan undangan formal) yang dilakukan teh Rieke Melihat bapak cukup menghangatkan perasaan bahwa pimpinan kita cukup peduli terhadap apa yang juga jadi perhatian kita bersama…

Informasi tambahan : Posko SOS (Sehati Oentoek Sesama) di Gedung Indonesia Menggugat buka setiap hari untuk menerima bantuan berupa barang (pakaian bekas layak pakai, makanan instan, selimut) dan uang.

Semoga kita semua, di tengah segala kenyamanan dan kecukupan kita, terketuk hatinya untuk membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s