Pour Daisy by Anne Nurfarina

Udah lama banget teman saya Anne ini ga berkarya. Karya-karya terakhirnya adalah karya grafis yang dibikin waktu tugas akhirnya di SR ITB kalo ga salah. Anne Nurfarina (sekarang dosen DKV Universitas Pasundan) yang sobat karibnya adikku Ine, tiba-tiba mengirim SMS dan mengundang aku untuk hadir ke pembukaan pamerannya di Galeri Titik Oranye – di sekitar Taman Pramuka Jalan Riau… Surprise juga…

Anne Nurfarina

Ceritanya proses Anne berkarya kali ini gara-gara terus dimotivasi oleh temannya Dessi. Dessi sendiri saya kenal adalah seniman keramik. Kebetulan waktu mengijinkan, meluncurlah saya ke tempat pamerannya Anne. Kapan lagi, ya ga? Kebetulan juga udah agak lama saya tidak mampir-mampir ke galeri dan ngobrol2 sama teman-teman seniman. Sesuatu yang dulu sempat cukup sering saya lakukan…

Karya Anne seperti yang dulu punya ciri khas ke kanak-kanakan. Itu menurut saya. Tapi kali ini karena medianya kanvas dan pinsil, karakter Anne muncul agak beda. Walaupun gaya Anne yang ‘dekoratif – centil’ tetap kental teramati. Menarik. Buat saya menarik karena temanya adalah tentang dirinya sebagai seorang ibu, kreasinya yang tampil tidak berwarna seakan jadi bertolak belakang.
Bagaimanapun ada suasana suram di sana. Tapi toh detail-detailnya sangat riang dan dinamis…
Lucu juga jadinya…

Eniwei, kenapa saya senang ketemu para seniman terutama karena mereka (pada umumnya) punya beberapa ciri khas di dalam ke-senimanan-nya yaitu, yang pertama adalah BERKARYA. Kadang mereka berkarya hanya karena sekedar ingin berkarya, demi mengekspresikan sesuatu yang ada dalam diri mereka. Ini yang menarik. Ini yang buat saya rasanya sangat humanis, karena sangat nyambung dengan spirit kebebasan – freedom. Melakukan sesuatu bukan karena tuntutan orang, bukan atas dasar order (pesanan), bukan karena aturan atau perintah orang lain…
Kedua, mereka (tidak semua juga) berupaya betul menampilkan diri mereka apa adanya. Style Gue jadi penting artinya. Kalo niru gaya atau langgam orang lain bukan seni namanya…

Mungkin tidak banyak yang menyadari betapa luar biasanya dua hal itu. Buat saya ada banyak esensi kemanusiaan yang hadir dalam dua hal tersebut : berkarya dan ekspresi diri.

Jadi, wilujeng kanggo teh Anne. Semoga tidak berhenti berkarya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s