Pendidikan dan Kebudayaan : Isu Konten Lokal dan Globalisasi

Menyiapkan anak menghadapi globalisasi, saya lihat ada poin yang hampir selalu terlewatkan yaitu pentingnya LOCAL CONTENT. Dengan semakin seragamnya segala sesuatu dalam konteks global (komunikasi, penyebaran informasi, komersialisasi dll.), konten lokal justru menjadi semakin bernilai. Saat semua semakin seragam di belahan dunia manapun, keunikan akan semakin tinggi nilainya. Saat di semua bagian dunia ada Mc Donald, lalu apa istimewanya Mc Donald? Nasi timbel atau peuyeum akan menjadi unik dan bernilai tinggi karena satu-satunya tempat di mana dia bisa dicari adalah di tatar Sunda sini. Ironisnya, kenapa masyarakat kita begitu ingin beralih kepada segala sesuatu yang asing dan meninggalkan budayanya sendiri. Kita bisa paham kenapa Malaysia begitu berhasrat untuk memiliki konten-konten kebudayaan Indonesia, karena mereka sadar betul akan nilainya yang sangat tinggi. Ini salah satu poin penting yang diangkat oleh John Naisbit dalam bukunya Global Paradox.

Satu2nya konten yang tidak mungkin diduplikasi di bagian dunia lain adalah kebudayaan. Karena kebudayaan adalah sesuatu yang sungguh-sungguh lokal dan erat kaitannya dengan akar tradisi suatu masyarakat. Ini berhubungan dengan penghayatan masyarakat terhadap konteks mereka (lingkungan alam tempat kehidupan mereka, nilai-nilai yang dianut masyarakat tersebut dll.), terkait erat dengan pemaknaan, penghayatan dan spiritualitas mereka di dalam proses hidupnya. Kebudayaan tidak bisa diperjual-belikan atau dipindah-tempatkan begitu saja, karena sebagian besar nilai (makna)nya akan hilang saat sebuah kebudayaan lepas dari konteksnya.

Saat ini, sekolah-sekolah hanya fokus pada pembelajaran bahasa asing. Hanya itu saja, hanya aspek kemampuan komunikasi saja. Oke anak-anak kita akan bisa berkomunikasi, tapi konten apa yang mereka miliki, kemudian akan bisa dibagikan / disharingkan kalau penghayatan mereka terhadap budaya lokal-miliknya sendiri sangat minim. Sama halnya dengan Teknologi Informasi. Dalam pandangan saya TI hanyalah mediumnya. Kalau kita menguasai TI, konten apa yang akan kita hantarkan lewat teknologi tersebut? Dengan pola belajar sekarang di sekolah-sekolah kita, anak-anak kita hanya menguasai akan mediumnya. Konten / messagenya sendiri tidak dimiliki, atau jangan-jangan sudah terlebih dulu dikuasai orang lain. Saya kira kita banyak salah menerjemahkan cara mempersiapkan anak-anak kita menghadapi globalisasi. Pendidikan dengan demikian harus merupakan sesuatu yang sangat lokal, karena harus berakar pada kebudayaan masyarakatnya. Dari sudut pandang ini saya pribadi sangat tidak sejalan dengan penyelenggaraan pendidikan yang mengambil kurikulum dari luar negeri (impor). Pendidikan semacam ini, walaupun sepintas tampak keren dan bergengsi (bahkan disebut menyiapkan anak2 untuk globalisasi), berperan besar dalam menyerabut anak-anak bangsa dari akarnya, dari masyarakat tempatnya lahir dan berkembang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s