FHB : TPA Leuwi Gajah dan Masyarakat Adat Ciomas

Ini kali ke dua aku hadir di Pertemuan Forum Hijau Bandung. Satu ‘paguyuban’ tempat kumpulnya komunitas, aktivis dan mereka2 yang peduli tentang masalah lingkungan hidup di Kota Bandung. Kali ini pertemuan diadakan di sekretariat Pangasuh Bumi, Jl. Dipati Ukur 91, satu komunitas yang baru kali ini aku kenal secara langsung.

Secara umum kegiatannya asik banget. Teman2 yang hadir cukup dari beberapa komunitas / kelompok seperti Bandung Green and Clean, U Green, Ganesha Hijau, Sembilan Matahari, HTML ITB, Climate Change Center, Pangasuh Bumi, Greeneration Indonesia, Komunitas Sahabat Kota dll. Serba hijau, dan yang aku suka adalah spirit dari semua yang hadir. Yang aku kurang suka adalah ngaretnya, karena startnya ngaret banget sementara aku hadir seperti dijadwalkan pukul 18.30 (eh, telat juga sih 5 menit karena macet). Wah mulainya baru hampir jam 8-an, hehe…

Hari ini aku juga kebagian mempresentasikan sedikit tentang program
distribusi buku yang diterbitkan yayasan ars86 peduli; cerita sedikit tentang yayasannya sekaligus menjelaskan program buku gratis dan apa yang kita harapkan dari format kerja sama ini. Karena beberapa teman tahu aku juga dari Semi Palar, aku juga diminta sedikit mensharingkan tentang Rumah Belajar Semi Palar.

Tapi aku mau cerita tentang apa yang diceritakan teman-teman Pangasuh Bumi. Ceu Yuni dan Erwin mengisahkan pengalamannya berkunjung ke Leuwi Gajah, bekas TPA yang ditinggalkan karena bencana longsor yang membawa korban jiwa beberapa tahun yang lalu, kemudian bagaimana mereka menyaksikan upacara adat masyarakat Ciomas yang luar biasa kaya dari berbagai aspeknya : ritualnya, keterlibatan masyarakatnya, ekspresi spiritualitasnya, aspek sejarahnya, aspek lingkungan hidupnya, yang dibungkus oleh tradisi / kebudayaan yang masih dijaga sampai sekarang.

foto kawasan TPA Leuwi Gajah yang permukaannya sudah ditumbuhi rumput (ki)
ceu Yuni menunjuk bagian TPA yang longsor (ka)

Lokasi eks TPA Leuwi Gajah, ternyata kondisinya sudah berubah luar biasa. Timbunan (gunungan) sampah yangi di titik-titik tertentu mencapai ketinggian 15 meter (setinggi bangunan 4 lantai) sekarang sudah ditutupi tetumbuhan. Hamparan alam entah seluas berapa hektar yang kita timbuni sampah yang dihasilkan masyarakat kota Bandung, (sampah kita), ternyata sudah mulai memulihkan dirinya sendiri secara alami. Dan saat teman2 berkunjung ke sana, bau sampah sudah sama sekali hilang, tergantikan olah aroma rumput yang membentang menutupi timbunan sampah masyarakat Bandung.

Beberapa fakta yang baru kita ketahui, berdasarkan cerita tokoh masyarakat adat di daerah sana cukup mengagetkan. Salah satunya bahwa TPA Leuwi Gajah berada di atas 3 buah mata air yang sampai sekarang masih mengalir terus. Longsor, berarti bukan sesuatu yang mengejutkan karena air terus membasahi tumpukan2 sampah di atasnya yang jadi potensial mengakibatkan longsor. Ironisnya (kalau terlalu kasar untuk bilang bodoh), mata air adalah sumber penghidupan, apalagi bagi masyarakat Sunda. Dan pemerintah dengan tanpa banyak peduli menjadikan daerah ini tempat pembuangan sampah.

Setelahnya ceu Yuni mengajak kita melihat dokumentasi prosesi upacara adat Nyangku, di Kota Panjalu – daerah Ciamis, diselenggarakan setiap tahun yang merupakan ritual memandikan pusaka. Salah satu pusaka ini berupa pedang yang konon merupakan peninggalan Syaidina Ali, salah satu tokoh agama Islam yang sangat berpengaruh pada jamannya (sekitar tahun 700an). Pusaka ini yang menjadi milik Raja BorosNgora dimandikan menggunakan air yang diambil dari sembilan mata air di daerah tersebut. Mata air yang sampai hari ini masih dijaga dengan baik oleh masyarakat adat di daerah sana.

Dari rangkaian ritual yang digelar seharusnya upacara ini punya makna luar biasa. Pedang ini Kalau ini benar seperti yang diyakini masyarakat Ciomas, berarti sejarah masuknya agama Islam seperti yang kita kenal selama ini perlu kita periksa kembali.

Berikut ini laporan perjalanannya ceu Yuni (Pangasuh Bumi) yang saya kutip dari milis Forum Hijau Bandung

Assalamu’alaikum wr.wb, Salam sejahtera, Sampurasun

Sahabat2 forum hijau..
Berikut laporan perjalanan kami ke kampung adat cireundeu..
Jam 12 an kumpul di dipatiukur.. Yang hadir kang erwin, Fariz, Ahmad dan Vanny (TL ITB). Berangkat ke lokasi jam 1. Sesampainya di kampung adat cirendeu, bergabung kang rahmat, anggi (belantara)..

Kami bersilaturahmi dgn masyarakat adatnya, sayang sesepuh adat abah asep setelah naik ke gunung salam beliau kurang enak badan.. Sempat bertemu, tp alhamdulillah masyarakat adat masih bisa bersilaturahmi…

Diputuskan, kami meninjau tpa leuwigajah dari puncak gunung kunci, yang konon dulu merupakan pusat atau kunci dari cekungan bandung.. Juga tempat orang bermeditasi.. (Walaupun dinamakan gunung sebenernya bukit…) Satu lagi, kami berjalan tanpa alas kaki… Dari tempat kmpg adat menuju TPA..

Dari sejauh mata memandang, banyak tanaman2 yang semak dan perdu.. Mudah2an ini awal yang baik bagi perkembangan secara ekologis didaerah tersebut.. Karena didaerah Leuwigajah terdapat 2 mata air utama yang menjadi supporting ketersediaan air di daerah tersebut..

Selanjutnya kami menuju Gunung Gajahlangu… Perjalanan yang cukup menyenangkan, mendebarkan serta mengharukan..Menyenangkan karena kami bersama dengan masy adat kang Yana yang memimpin kami semua untuk naik ke leuweung larangan – Syanghang Sirah yang berada di puncak gunung.. Juga ada yang jatuh2 krn licin jalurnya.. Mendebarkan karena ketika memasuki kawasan leuweung larangan, kami harus menetapkan hati, tidak boleh sembarangan bicara, dan takut jg kalau ketemu dgn ular, atau hujan…disini kami tidak boleh makan dan minum lagi..

Mengharukan ketika kami sdh sampai di puncak gunung.. kami disambut oleh suara binatang tongeret.. Kenceng banget.. Angin yang menerpa jg luar biasa.. Seperti mensupport kedatangan kami..
Kami berusaha mensinkronkan diri dgn alam dgn cara merenung (bukan melamun…)…
Alangkah indahnya bila puncak gunung ini sudah dipenuhi oleh pohon2 besar… (Karena selama dalam perjalanan… Banyak sekali lahan kritisnya..) Pada saat ini komunitas adat Cirendeu sedang dalam proses pemulihan lingkungan berbasis kearifan lokal..

Waktunya kembali ke kampung setelah dari puncak gunung.. Ketika hendak sampai, mulailah hujan dan petir. Subhannallah…

Sesampainya di rumah abah Asep, kami berdiskusi tg TPA dan perjalanan kami.. Ternyata bahwa di gunung Gajahlangu banyak banget ularnya dan galak2.. Tetapi mungkin karena kami semua tidak memakai alas kaki, aura dan tekad hati kami yg tidak ingin merusak alam membuat kami sama sekali tidak bertemu dgn binatang2.., Alhamdulillah lagi, kami disuguhi nasi singkong… Makin terharu, karena artinya bila kita sudah disuguhi oleh makanan asli, kami sdh dianggap keluarga oleh masyarakat adat…

Alhamdulillah…
Jam 9 malam kami pamit dan kembali ke bandung…
Insya Allah, bahwa pada hari ini kami sdh melewati tahap silaturahmi dan peninjauan lokasi. selanjutnya bahwa tugas berikutnya masih banyak yang harus dikerjakan… (Memang tugas yang tidak pernah berhenti..)
Makasih semuanya..
Salam hijau…!

Ceu Yuni..

Mendengar kisah dari ceu Yuni dan Erwin, saya sampe lupa mengambil gambar… Betul yang dikatakan ceu Yuni alam punya kekuatan luar biasa, dan kalau manusia terus menjalin hubungan yang harmoni dan sikap penuh respek (bahkan sakral) terhadap alam, manusia akan tetap punya kekuatan luar biasa. Justru ini bisa diperoleh saat manusia bersikap sangat rendah hati terhadap alam lingkungannya. Seperti tulisan pendek yang menjadi filosofi masyarakat adat di daerah Ciomas, tertulis di sebuah bangunan di lokasi upacara seperti di bawah ini…

Apakah kita, yang mengaku manusia modern masih sebijak mereka…

2 thoughts on “FHB : TPA Leuwi Gajah dan Masyarakat Adat Ciomas

  1. iya kang,,spakat bangeet!!
    Alam memiliki kekuatan yang luar biasa,,
    Saya juga terinspirasi skali dengan masyarakat adat yang arif dan bijak dalam membaca tanda-tanda alam yang telah diciptakan dengan amat sempurna oleh Sang Pencipta..
    Tanggal 3,4,5 ikutan lagi yuk kang ke Ciomas lagi,,

    nuhun
    snang berkenalan kang andi,

    salam lestari,
    muhammad fariz

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s