spiritualitas ‘jengkol’

 

Selepas kegiatan Slametan Cinta Bumiku, Cinta Negeriku di Cibodas, 17 Agustus lalu, ada dinamika relasi antar orangtua yang baru. Entah bagaimana menjelaskannya, yang jelas sangat menyenangkan, cair, lebur… ada kedekatan baru yang muncul. Dari mana asalnya juga tidak mudah menemukan penyebabnya. Yang jelas kami semua di Semi Palar perlu perjalanan panjang, 11 tahun untuk sampai ke titik ini.

Malam kemarin saat meleburkan dua grup WA orangtua lintas jenjang, satu grup lintas jenjang yang sdh lama ada, dengan yang grup panitia Slametan, muncul satu kata kunci yang jadi mengkini (trending) yaitu jengkol. Berjalan seminggu setelah slametan, Jengkol jadi topik panas di grup WA orangtua Smipa. Jengkol jadi olahan serius juga becandaan dan kemarin malam saya yakin obrolan ini sempat menghangatkan diri kita semua yang membaca pesan-pesan di grup WA itu, mulai dari senyum-senyum hingga ketawa seorang diri (seuseurian sorangan). Bagi saya ini luar biasa.

Menjelang tidur, saat merefleksi proses hari kemarin, terlintas satu kutipan yang menggambarkan situasi kita hari ini. Sesuatu yang semakin lama semakin diyakini dalam proses panjang Rumah Belajar Semi Palar sejak awal dirintis hingga hari ini…

wp-1472125463490.jpg

Dinamika interaksi rekan-rekan orangtua smipa – yang saya sebut sebagai konektivitas… mendadak meledak atas sesuatu yang sederhana : jengkol. Luar biasa! Keren banget! Di grup WA ini, obrolan jengkol bisa meluas ke mana-mana dan jadi sangat menarik direspon berbagai cara di grup ini. Di bawah ini beberapa gambar yang muncul di grup – bukti otentik berkobarnya wacana perjengkolan di grup WA orangtua Smipa – selepas Slametan TP12 kemarin.


Buat saya ihwal perjengkolan ini sedikit menjelaskan kata-kata Mitch Albom di atas ini… Bahwa manusia terkoneksi melalui hal-hal yang tidak terpahami… lewat mimpi sekalipun.

This slideshow requires JavaScript.

Di permukaan, saat berkenalan, interaksi manusia dibangun lewat logika – atas apa yang terlihat di permukaan (superfisial). Sepertinya manusia jadinya merasa terpisahkan satu sama lain karena hal-hal fisikal – superfisial – material yang membungkusnya. Warna kulit, mata bulat vs mata sipit, pakaian yang dikenakannya, atau kendaraan yang dinaikinya… Apalagi budaya masyarakat modern adalah budaya materialis, semua diukur lewat hal-hal material (kebendaan). Akhirnya menjadi sulit manusia membangun koneksi yang mendalam dan bermakna.

Memang koneksi antar manusia perlu dicari, perlu digali. Bukan sekedar kenal, karena di lapisan yang lebih dalam barulah koneksi tersebut terjadi. Ada pertalian (bond), dan di situ baru mungkin tumbuh rasa percaya, rasa saling menghargai dan juga rasa saling membutuhkan. Semua hal-hal tersebut di atas dimulai dengan kata rasa. Rasa hanya bisa dibangun oleh hati nurani.

Di lapisan terdalam, pada hakikatnya kita manusia adalah satu. Kabarnya manusia adalah spiritual being having a human experience. Maksudnya, hidup manusia pada dasarnya adalah spirit (jiwa) yang memilih untuk mendapatkan pengalaman manusiawi. Human experience is the way human spirit learn about ourselves. Pengalaman manusia (our doing) adalah cara jiwa manusia belajar memahami mengenai kita sendiri (our being).
Tapi kita kerap lupa, karena logika kita seringkali lebih mudah bekerja daripada rasa.

Di titik ini, kita mesti berterima kasih atas hadirnya jengkol di antara kita, yang menjadi titik awal kita membangun koneksi yang lebih mendalam.

Namaste _/\_

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s