hukum alam dan kehidupan

Membangun momentum – kebiasaan diri

The law of physics really do work… Hukum2 alam (fisika) memang terbukti bekerja, termasuk di dalam kehidupan kita… Yang saya coba ceritakan di sini adalah soal kelembaman, momentum. Walaupun tulisan ini dibuka dari sudut pandang fisika, saya lebih ingin menulis tentang bagaimana membangun kebiasaan (habits). 

Menggulirkan sesuatu agar menjadi kebiasaan (habits) ternyata sulit, sangat sulit. Blog saya ini contoh nyatanya. Bertahun-tahun saya bercita-cita menulis – mengisi blog secara rutin tapi belum juga berhasil. Menggulirkan sesuatu dari kondisi diam agar mendapatkan momentum perlu usaha besar. Apa lagi terus mendorongnya sampai bergulir dan memiliki monentum tertentu. Sampai momentum tertentu tercapai, sesuatu yang bergulir menjadi sulit dihentikan. Tapi ya itu, sampai mencapai / mendapatkan momentum itu kita membutuhkan usaha / enerji yang menerus dan konsisten… Setelah momentum tercapai, apa yang kita lakukan akan jadi lebih mudah.  

Di awal semester ini, saya bersama kakak2 Smipa berusaha menetapkan komitmen dalam rangka membangun diri dari sekedar nyaho (tahu) menuju (paham) kemudian bisa (mampu), mudah-mudahan tuman (terbiasa) dan ngajadi (menjadi bagian dari diri kita). Komitmen saya adalah menulis blog secara rutin (sebulan dua kali – minimal). Ini blogpost saya yang pertama setelah komitmen kita sampaikan . Seperti biasa saya mengacu ke kata-kata bijak Aki Muhidin : 

nyaho can tangtu ngarti, 
ngarti can tangtu bisa,
bisa can tangtu tuman, 
tuman can tangtu ngajadi.

Aki Muhidin, guru silat abah Iwan Abdurrahman – Cianjur

Membangun Kebiasaan Pilah Sampah

Posting blog ini saya lanjutkan ke cerita tentang pilah sampah. Sudah lama saya punya keprihatinan tentang soal sampah ini. Mulainya waktu nonton beberapa filem dokumenter – salah satunya filem Inconvenient Truth dan ikut ngerumpi bersama teman-teman komunitas di Forum Hijau Bandung. FHB ini – salah satu sesinya pernah juga diselenggarakan di Semi Palar. Sayangnya forum ini sudah tidak lagi berjalan.

Kenapa motivasi mengerjakan pilah sampah timbul dalam diri saya, tampaknya karena adanya wawasan (nyaho). Saat wawasan yang dimiliki cukup banyak, wawasan akan mendorong pergeseran ke pemahaman (ngarti). Pemahaman punya potensi untuk bermuara menjadi dorongan, motivasi untuk dapat melakukan sesuatu (bisa) – dan selanjutnya kita perlu mendorong lagi hal itu menjadi kebiasaan (tuman). 

Sudah bertahun-tahun, di rumah saya memilah barang-barang yang tak lagi terpakai. Istilah umumnya memang sampah – tidak terlalu tepat, karena saat barang-barang tersebut masih punya nilai manfaat, maka dia bukan sampah. Tugas kita adalah mencarikan ke mana barang-barang tak terpakai tersebut harus disalurkan agar potensi kemanfaatannya bisa direalisasikan. 

Sebagian besar barang yang saya pilah sebetulnya sudah ketemu penyalurannya. Ada bapak2 pemulung di sekitar tempat tinggal yang sudah saya kenal. Kang Rudi namanya. Saya punya nomor hapenya. Jadi saat barang2 yang saya pilah dan kumpulkan sudah cukup banyak, saya tinggal telepon / SMS beliau dan beliau dengan segera akan datang dan mengangkut barang2 tersebut. 

Saya juga tahu bahwa kita semua masih bermasalah dengan plastik kemasan (bungkus / wadah dari semua barang yang kita beli). Kita – orang-orang yang hidup di kota tidak bisa lepas dari plastik kemasan. Kalaupun kita bisa mengurangi kantong kresek dengan bawa tas belanja sendiri, kita sulit sekali melepaskan diri dari plastik kemasan. Beli lotek di warung-pun kita akan pulang dengan membawa kantong plastik kecil di mana sambal dan kerupuk ditempatkan. 

Mengolah sampah melalui EcoBricks

Akhir semester lalu, Semi Palar menemukan rekanan kerja sama untuk pengolahan sampah – setelah bertahun-tahun berupaya melakukan berbagai ikhtiar untuk mengolah sampah. Lembaga ini, menamakan diri Plastavfall mengelola lebih dari 20 jenis barang-barang tak terpakai untuk mereka olah lebih jauh. Saat berbincang dengan teman-teman Plastavfall, kembali saya terpikir soal EcoBrick. Tahu (nyaho) sudah lama, tapi toh saya belum pernah mencoba membuatnya sendiri. 

Kemudian, saya mencari botol air mineral dan mulai mencoba mencacah kemasan plastik yang saya dapatkan dari apa yang apa yang saya konsumsi. Seperti saya sebutkan di atas tadi, hampir tidak mungkin kita yang hidup di kota, bisa menghindar dari sampah plastik. 

Setelah beberapa waktu mencobanya, muncul pertanyaan kenapa saya tidak lebih dulu melakukannya? Sulitpun tidak, hanya butuh kemauan untuk mencobanya. Kenapa juga tidak banyak orang yang melakukannya, ini juga jadi pemikiran saya selanjutnya. Sudah beberapa minggu berjalan, saya masih terus melakukannya. Sekarang saya sudah punya 3 botol EcoBricks dalam proses, 2 botol di rumah dan 1 di sekolah – di tempat kerja. Ada perasaan senang saat saya bisa bertanggung jawab atas sampah yang saya hasilkan.

Lebih bahagia lagi saat gerakan yang coba diinisiasi di Semi Palar disambut cukup antusias oleh rekan-rekan guru dan orangtua. Entah saat ini ada berapa EcoBricks yang sedang dalam pengerjaan – dan dalam prosesnya kita membantu menyelamatkan bumi dari sampah kemasan yang seandainya tidak diproses akan dibakar dan menjadi racun atau dibuang di TPA, ditimbun dalam tanah dan akan terus jadi masalah buat anak cucu-kita lama setelah kita sudah meninggalkan kehidupan ini.

Menjawab pertanyaan di atas – kenapa tidak banyak orang melakukannya? mungkin jawabannya ada di bawah ini… Saya pikir begitu. Nanti saya coba ulas lebih jauh soal ini – di blogpost yang lain.

Mudah-mudahan apa yang sedang mulai bergulir ini jadi momentum… jadi sebuah guliran yang sulit dihentikan… Istilah kekiniannya menjadi trending, jadi viral. Ga apa ya kan? Karena ini sesuatu yang sangat positif buat kita sendiri dan buat masa depan… Salam…

O iya buat yang ingin tahu lebih banyak tentang EcoBricks – silakan merapat ke www.ecobricks.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s